Indonesia akan segera mengakhiri presidensinya di G20 setelah menggelar KTT di Bali pada November mendatang. Tongkat estafet kepemimpinan akan diserahkan kepada India selaku negara yang akan memimpin presidensi hingga tahun berikutnya.
- Minyak Goreng MinyaKita Tak Sesuai Takaran, Ini 3 Produsennya
- Jelang Pelantikan Andra Soni-Dimyati Natakusumah, Pj Gubernur Banten Mendadak Mutasi Kepala OPD
- BMKG Warning Warga Banten, Peringatan Cuaca Buruk di Lima Daerah
Baca Juga
Duta besar RI untuk India, Ina Hagniningtyas Krisnamurthi mengungkapkan harapan dan dukungannya kepada India sebagai tuan rumah G20 pada tahun 2023 dengan kepercayaan penuh bahwa India akan memimpin KTT tahun berikutnya dengan sangat luar biasa.
"Abad 21 adalah abad Asia dan saya percaya bahwa India dan Indonesia akan memainkan peran penting. Saya yakin India akan menjadi pemimpin yang luar biasa dalam menjadi tuan rumah G20," ujarnya saat berpidarto di pertemuan di New Delhi pada Rabu (21/9).
Dubes Ina juga menjelaskan apa saja yang dihadapi Indonesia selama menjabat sebagai ketua G20 di masa pandemi ini. Terlebih di tengah tantangan geopolitik negara akibat perang dan berbagai krisis yang melanda dunia.
“Indonesia telah terjebak dalam ketegangan geopolitik, terutama di tengah perang Rusia-Ukraina. Dunia harus menyikapi dampak tantangan di dunia. Perang di Ukraina telah pembuka mata kita bahwa tidak ada negara atau kawasan yang kebal terhadap hal-hal seperti itu," jelasnya.
Menyoroti pentingnya kolaborasi bagi anggota G20, ia menekankan kerjasama yang erat antar negara Troika yang memiliki karakteristik ekonomi berkembang agar dapat terus amenjaga keutuhan G20.
“Kita mempelajari dinamika global ini bersama-sama, jadi kita harus menghadapinya dengan bekerja sama dan berkolaborasi. Jadi menurut saya, pelajaran dari troika adalah kolaborasi itu penting. Jika tidak, G20 akan runtuh dan kita tidak akan memiliki kebijakan yang baik”, ujarnya.
Krisnamurthi juga mengucapkan selamat kepada India yang telah menjadi ekonomi terbesar ketiga di dunia mengungguli Inggris yang ada di peringkat ke lima pada tahun 2030.
Bersamaan dengan itu, Dubes berharap kerjasama bilateral kedua negara dapat ditingkatkan dari Rp 315 triliun ke Rp 751 triliun pada tahun 2030.